Selasa, 05 Januari 2010

KEBUDAYAAN SUKU KARO

KEBUDAYAAN SUKU KARO DI SUMATERA UTARA bagian 1.

 

Tanah Karo terkenal ke luar negeri karena Brastaginya dengan jeruknya yang manis.

 

Suku ini adalah juga satu cabang dari suku Batak. Suku-suku yang serupa rumpun kebudayaannya di Sumatera Utara dari suku Batak ialah Mandailing, Karo, Toba, Angkola, Pakpak, Gayo Alas.

 

Satu sama lain ada mempunyai bahasa tersendiri dan hurufnya. Bahasanya dari Rumpun yang satu di tambah dan berlainan disana-sini, karena alam dan keadaan sekelilingnya.

 

Kata "Karo" Artinya Ha roh = pertama datang. Kata Ha roh ini lama-lama menjadi Karo. Suku Karo terkenal pandai bermain Catur. Wanita-wanita berjuang sebagai tani atau pedagang-pedagang sayur, kain, mas dan lain-lain.

 

Biasanya keluarga-keluarga yang mati dibakar, seperti adat Hindu di India, lalu dihanyutkan ! Dari mana kebiasaan ini datangnya ? Mungkin sekali mendapat pengaruh India, percaya kepada animisme, setan, hantu, begu dan roh simati bisa mengganggu orang-orang yang masih hidup.

 

 

AGAMA PURBA DI TANAH KARO.

 

Agama Purba di tanah karo terdapat juga suatu agama pusaka lama, yaitu Perbegu. Kepercayaan ini banyak persamaannya dengan agama Hindu. Pembakaran mayat, meletakkan bunga-bunga di tepi jalan, memakai nama-nama Brahmana, Pelawi, Teikang dan sebagainya.

 

Brahma, Wisnu, Syiwa, terdapat juga dalam agama Perbegu tersebut (Animisme campur Hindu).

 

 

 

PENGARUH AGAMA ISLAM

 

Pengaruh agama Islam terdapat juga pada adat istiadat Karo. Di Gunung-gunung yang masih jauh dari perhubungan, Orang-orang Perbegu memakai mentera-mentera lama dengan ucapan "bismillahirrahmanirrahim". Ada juga tidak memakan Babi. Tapi banyak pula yang suka makan kodok, cacing dan sebagainya.

 

Nada lagu asli mereka, serupa dengan Nias, simalungun, karo. Belakangan ini banyak orang-orang Karo memasuki agama Islam dan banyak pula yang sudah jadi haji.

 

 

RUMAH ADATNYA SANGAT MENARIK.

 

Rumah adatnya sangat indah kelihatan. Atapnya memakai tanduk kerbau. Rupanya Tanduk kerbau ini menjadi lambang kebesaran suku-suku di Sumatera zaman purba. Suku Karo mengenal marga-marga yang terdiri atas 5 bahagian :

1.  Perangin-angin

2.  Karo-karo

3.  Ginting

4.  Sembiring

5.  Tarigan

 

kelima marga ini menjunjung kerbau sebagai binatang yang mulia. Seperti Minang Kabau, Karo juga memakai tanduk kerbau sebagai lambangnya.

 

Berbeda dengan Batak, rumah Batak atapnya seperti sadel kuda, karena kuda di muliakan di Toba, lebih dari kerbau. Boleh jadi suku Toba lebih dulu mengenal kuda dari tanah asalnya ?.

 

 

CARA PEMILIHAN UMUM DITANAH KARO.

 

Di zaman Iskandar Muda di Aceh 1607 s/d 1636, tanah Karo tunduk dibawah kedaulatan Aceh.

 

Raja Aceh disebut oleh rakyat "Tuan Kita". Iskandar Muda melakukan pemilihan seorang raja, lain pula caranya. Raja-raja dikumpulkan disatu tempat kemudian disuruh naik kerbau yang sudah ditetapkan. Mana orang itu yang terberat, itulah yang berhak jadi Raja. Sebagai tanda raja oleh Sultan Aceh kepada orang itu diberikan sebuah "keris bawar".

 

Demikianlah caranya pemilihan umum zaman dulu. Untuk itu ditetapkan 4 raja terbesar di tanah Karo. Suku Karo mempunyai huruf sendiri, biasanya ditulis dikulit bambu, dinamai "haraka" huruf. Asal keturuna diambil dari pada Ayah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar